2 Desember 2017

Masalah Hijab Bukan Hanya Milik Rina Nose Saja


Kenapa Adam a.s. ditemani Hawa yang setia dari bahagia hidup di surga hingga harus terpaksa terlontar ke dunia yang penuh dengan tanda tanya, kenapa pula Maryam melahirkan Isya a.s. yang sampai sekarang menjadi bahan diskusi beberapa disiplin ilmu, kalau saja Maryam hanya mengurung diri untuk sekedar berdzikir di pojokan ruangan suci, kapan dia tahu bahwa melahirkan itu akan membahagiakan, bahwa melahirkan itu akan mengangkat derajat seorang perempuan dibanding perempuan lain, dan bahwa melahirkan itu penuh pertanggung jawaban. 


Pada saat itulah Allah menghijab Maryam tentang konsep bahwa melahirkan itu buah proses dari keikhlasan kasih sayang suami terhadap istrinya, karena kalau saja Maryam tahu bahwa melahirkan itu harus ada kehadiran seorang suami dalam prosesnya, tetntu Maryam akan meminta untuk dinikahi terlebih dahulu, tetapi Allah menghijabnya dari konsep ini hingga lahirlah sosok Isya a.s. sebagai Al-Masih.




Islam adalah sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai Rahmatan Lil ‘Āalamin. Sehingga sebuah konsekuensi logis apabila penciptaan Allah atas makhluk-Nya yaitu laki-laki dan perempuan memiliki missi sebagai Khalifatullah Fiil Ardh, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam, sampai pada suatu kesadaran akan tujuan menyelamatkan peradaban kemanusiaan. Dengan demikian, wanita dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki.


Hijab dalam konteks istilah


Hijab secara istilah khusus merupakan sebuah proteksi yang dapat menjaga seorang wanita dari berbagai macam pelecehan. Hanya saja, ungkapan speperti ini cakupannya sempit dan hanya akan dimengerti dan diamalkan oleh mereka yang meyakini tentang Islam. Sedangkan bagi yang tidak meyakininya, terlebih mereka yang senantiasa mengusung panji feminisme dan atribut-atribut semisalnya akan sangat sulit menerima ungkapan di atas. Karena secara emosional penjagaan memberikan konotasi definitif, sebuah perlawanan yang terpaksa dilakukan. Ini jelas sulit diterima oleh kelompok-kelompok tadi yang selalu meneriakkan yel-yel kebebasan (menurut asumsi mereka).


Berbicara tentang hijāb dan gender, kata hijāb adalah serapan dari bahasa arab yang merupakan mashdhar dari kata hājaba yuhājibu yang kemudian disempurnakan kedalam bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi kata Hijab. Arti hijāb dalam bahasa Arab secara umum berarti penghalang, sedangkan menurut istilah syara’, al-Hijab adalah suatu tabir yang menutupi semua anggota badan wanita, kecuali wajah dan ke dua telapak tangan dari  penglihatan orang lain. Namun, dari segi interpretasi hijab memiliki makna yang banyak, Al-Fiqh Al-Mawārits memaknai hijab sebagai penghalang seseorang untuk mendapatkan warisan, kemudian dalam Al-Fiqh Al-Munākahat hijab diartikan sebagai penghalang seseorang untuk menikahi yang sedarah atau yang sesusuan (Rodhoah), demikian pula dengan makna hijab ketika dilihat dari konsep Al-Fiqh Al-Ibādah yaitu keterhalangan seseorang dalam melakukan setiap ibadah-seperti berbuat syirik kepada Allah.


Para ahli Tasawwuf, hijab diartikan sebagai tirai yang mendindingi antara hamba dengan Allah, sehingga seorang hamba menjadi terhalang dalam memandang-Nya. Dalam hal ini Syekh Abdul Qadir Al-Jailani r.a. menegaskan pengertian hijab adalah: “Tabir yang menutupi pandangan atau penglihatan manusia”. Secara spesifik hijab yang dimaksud adalah menutupi pandangan mata hati.  Artinya, apabila hijab menyelimuti hati seseorang, maka mata hatinya menjadi buta, dan ketika seseorang buta mata hatinya, ia tidak mampu menyaksikan hakikat sesuatu, karena kemampuannya hanya sebatas pada pandangan yang lahiriah. 


Namun ketika hijab dituangkan dalam pergaulan keseharian akan memiliki arti yang berbeda, terkadang kita perlu mengenyampingkan hijab dan menjungjung tinggi toleransi di atas segalanya. Alasan mengapa hijab dikesampingkan dan toleransi dijungjung tinggi, cukup simpel untuk menjawabnya kita tentunya akan menolong orang yang membutuhkan kita sekalipun orang tersebut berbeda kyakinan, selama batasan-batasan tersebut tidak bertentangan dengan yang bersifat ritual.


Gender dan segala problematikanya


Berbicara tentang gender, gender secara umum merupakan kesetaran ataupun keterbukaan antara perempuan dan laki-laki terhadap hak untuk mendapatkan tempat pada urusan kerumah tanggaan, hukum, politik, dagang, maupun intelektual-pendidikan. Dengan demkian kaum perempuan akan memiliki akses sepenuhnya untuk berpartisipasi di bidang politik, ekonomi, dan intelektual-pendidikan, dan dihargai oleh kaum laki-laki. Kaum laki-laki juga bisa atau terbuka kemungkinan untuk berpartisipasi penuh di rumah dan ikut merawat anak-anak sehingga tercipta suatu masyarakat yang seimbang dan adil. Berkaitan dengan masalah keadilan sosial, maka adalah menjadi suatu keharusan untuk menentang sistem patriarkhi-kekuasaan sang ayah, tetapi juga bukan untuk memberlakukan sistem matriarkhi-kekuasaan sang ibu, melainkan untuk terciptanya keselarasan yang harmonis diantara keduannya.


Keseimbangan antara patriarkhi dan matriarkhi akan menghasilkan sebuah konsep hidup yang harmonis, kekuasaan sang ayah seharusnya ada dalam hal mendidik maupun yang bertanggung jawab rumah tangga secara ekstrirn, ditunjang lagi dengan kekuasaan sang ibu yang mendominasi ketika anak harus mencurahkan cerita-ceritanya, karena biasanya ibu selalu ada ketika anaknya membutuhkan. Konsep tersebut yang membuat keseimbangan dalam lingkup sosial, sudah sepantasnya kita berbenah diri untuk menerima dengan luas makna hijab dan makna gender, saya sengaja menyelipkan judul ini hanya untuk memperluas pengetahuan.


Hanya ketakwaan dan keimanan yang bisa menjawab dari semua realita yang ada, bisa jadi saat ini akal kita menjadi tumpuan untuk membenarkan segala sesuatu yang kita hadapi, tetapi kelak akan ada ujian terhadap akal yang dating begitu beratnya, pada saat itulah kita menyadari bahwa akal adalah lebih rendah daripada wahyu Allah yang disampaikan melalui perantara utusan-utusannya.


Hijad dan Gender butuh Keimanan


Keimanan kita akan begitu mudah menerima perintah-perintah Allah yang berat sekalipun, sedangkan ketakwaan kita akan begitu mudah melaksanakan perintah-perintah Allah yang berat sekalipun juga, karena iman dan takwa merupakan dua buah konsep Allah yang harus berjalan bersamaan, bagaikan Harun a.s. dan Musa a.s. yang selalu bersimbiosis mutualis dalam menyampaikan agama Allah pada umatnya.


Gender adalah bentuk kasih Allah untuk manusia yang disayangiNya, Allah menyimpan kekuatan dan kerja keras pada lelaki, juga kelembutan dan ketelatenan pada wanita, karena kekuatan tanpa kelembutan bagaikan baja yang tak kenal api, tak akan jadi pedang maupun jadi perhiasan, begitupun kerja keras tanpa ketelatenan tidak akan Taj Mahal dan Menara Eifl di dunia ini. Titik temu dari keduanya hanya bisa kita temukan ketika kita menyadari bahwa pria dan wanita berawal dan berbahan baku yang sama yaitu dari segumpal tanah yang mempunyai karakter menerima, menerima ketika semua musim datang silih berganti, menerima ditumbuhi oleh segala macam makhluk hidup tanpa henti memancarkan kehidupan.


2 komentar:

  1. Yang terpenting menurut saya tidak membuat hijab sebagai ukuran kesalehan spiritual seseorang. Dan tidak menempatkan perempuan dalam posisi yang 'hanya' melengkapi dalam konteks gender.
    Nice post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju hijab atau jilbab bukan merupakan ukuran kesalehan seorang perempuan, karena yang harus dihijab itu adalah hati, dihijab dari teriknya radikal bebas dan polusi 'hati'.

      Hatur nuhun !!

      Hapus