17 November 2017

Permasalahan Kompleks Bangsa Dalam Sebutir Nasi


Saya mau main logika dulu sebentar, selain makhluk adalah Khāliq (Allāh) dan setiap makhluk mempunyai naluri untuk meminta dengan caranya masing-masing, lebih jauhnya setiap makhluk akan memohon kepada penciptanya (Khāliq) yang kemudian sering disebut dengan Do’a.

Ayam akan berdo’a dengan bahasanya kepada Khāliq-nya, Ikan di lautan akan berdo’a dengan bahasanya kepada Khāliq-nya, yang Khāliq haramkan (Anjing, Babi, dll) pun berdo’a dengan bahasanya kepada Khāliq.



Manusia dengan segala permasalahan kompleksnya suatu saat akan menggetarkan hatinya untuk menghadap kepada sang Khāliq lalu kemudian mereka melantunkan do’a-do’a, yang bertuhan maupun mereka (manusia) yang tidak bertuhan akan tetap berdo’a pada sang Khāliq, ini Sunatullāh.Lantas, apakah butir-butir nasi yang kita makan, air yang kita teguk, buku yang kita baca, motor yang kita tunggangi, gadget yang sering ada di samping kita, semua benda-benda tersebut berdo’a? Jawabannya tentu saja Ya.

Suatu saat, saya pernah makan bersama dengan seorang nenek yang umurnya bagi saya sudah sangat tua; beliau berumur 93 tahun, segala puji hanya milik Allāh beliau masih merasa sehat dan beraktifitas layaknya biasa seorang yang sehat, disela-sela acara makan tersebut saya berdialog ringan dengan sang nenek:

Saya: Nenek kok bisa panjang umur? Apa rahasianya?

Nenek: Umur panjang nenek mungkin anugerah Gusti Allāh, tidak ada rahasia Mi, malah nenek merasa belum bisa mensyukurinya dengan baik.

Saya: Beruntung sekali nenek dianugerahi panjang umur oleh Allah.

Tak terasa acara makan pun sudah selesai, saya bantu-bantu nenek merapikan bekas acara makan kita, di dapur tempat mencuci piring nenek melanjutkan dialognya dengan saya.

Nenek: Kalau makan itu habiskan jangan sampai ada sisa yang masih bisa dimakan, ini butir-butir nasi sedih tidak kamu makan.

Saya: Ia maaf nek tadi saya sudah kenyang.

Nenek: Petani nasi berjuang sekurangnya 3 bulan supaya kita bisa merasakan nasi, dalam 3 bulan itu harus berjuang dengan hama dan cuaca, hampir setiap hari ditengokinya pesawahan, berdo’a supaya panennya melimpah dan kita yang menikmatinya mendapat berkah.

Saya sangat merasa malu karena tidak menghabiskan makanan yang masih bisa saya makan saat itu, saya memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa keberkahan nasi-nasi yang dimakan nenek tersebut yang membuat beliau panjang umur.

Mungkin teori yang pernah dibuktikan Masharu Emoto pada air terjadi juga pada saripati nasi atau makanan baik lainnya, ketika makanan tersebut kita aliri dengan hal positif (simpelnya berdo’a) dan mensyukurinya dengan cara dihabiskan oleh sendiri maupun dibagi kepada orang lain, maka makanan
tersebut akan kembali mendoakan kita dengan sebaik do’a yang mereka (makanan) panjatkan kepada sang Khāliq.

Hanya Allāh Mahamengetahui.

Catatan: Hai kalian yang masih suka membuang-buang makanan yang layak dimakan, kalian masih tetap mau membuang makanannya?

2 komentar:

  1. Memang kalo orang dahulu misal gk habis makan katanya nasi nangis, akhirnya saya selalu habis, beda dgn skrg. udah tahu kebenaran (baca : gk plos lagi ) jadi nya berefek berat badan seimbang dgn 2 karung beras. Eh beras ya bkn padi 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajaran orang dulu biasanya baik-baik dang bermakna, makanya hidupnya penuh berkah. Hehe

      Hapus